Bisnis

BISNIS

Internet, Marketing, Retail

Download

Download

Download DVD, Game, Software

Tips n Trick

Tips n Trick

Tips dan Trik seputar dunia internet, marketing, desain grafis dan lainnya

Desain Grafis

Desain Grafis

Tips dan Trik umum

Forum

Forum

Please Join with my forum

Advertise

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Peluang Bisnis Celana Jeans


jual celana jeans 200x146 Bisnis Celana Jeans Tak Penah Sepi Dimakan Zaman
Sampai hari ini, trend mode celana jeans ternyata masih sangat familiar di seluruh kalangan masyarakat. Produk fashion yang dipopulerkan oleh Levi Strauss pada tahun 1872 di Amerika Serikat tersebut, kini tak hanya dikenakan oleh para buruh di negara asalnya, namun telah berkembang pesat di berbagai penjuru dunia dan menjadi salah satu ikon mode pakaian santai yang tak pernah lekang dimakan zaman.

Melihat peluang pasarnya masih sangat besar, tidak heran bila di Indonesia sendiri banyak para pelaku usaha yang sengaja mengangkat celana jeans sebagai salah satu peluang usaha yang menjanjikan keuntungan cukup besar setiap bulannya. Mulai dari memproduksi sendiri aneka jenis model celana jeans sampai melayani penjualan ecer maupun grosir celana jeans, semuanya menjanjikan keuntungan yang sangat menggiurkan.Karenanya, bagi Anda yang sedang bingung mencari peluang usaha. Tidak ada salahnya bila Anda mencoba peluang bisnis celana jeans yang tak pernah sepi dimakan zaman ini, untuk mendatangkan untung besar setiap bulannya

Konsumen
Tak hanya digemari kalangan anak muda, trend mode celana jeans ternyata juga mulai merambah kalangan anak-anak maupun  orang dewasa. Bahan denim yang cukup nyaman untuk dikenakan dalam berbagai kegiatan, menjadikan celana jeans sebagai salah satu produk fashion yang sering digunakan masyarakat baik di acara santai maupun semi formal.

Semoga bermanfaat.



Strategi Promosi, Agar Diskon Anda Terlihat Menarik

diskon 200x123 Strategi Promosi, Agar Diskon Anda Terlihat MenarikBisa dibilang, hampir semua konsumen haus dengan yang namanya diskon. Berbagai macam event promosi yang menawarkan diskon besar-besaran di sebuah mall / pusat perbelanjaan, selalu ramai dipenuhi oleh calon konsumen yang ingin mendapatkan beragam jenis produk berkualitas dengan harga yang cukup terjangkau. Hal inilah yang mendorong para pelaku usaha untuk berlomba-lomba memberikan diskon kepada para konsumen untuk meningkatkan omzet penjualan setiap hari maupun setiap bulannya.
Meskipun strategi promosi dengan menawarkan diskon cukup menarik dimata para konsumen, namun sebagai seorang pengusaha Anda harus jeli dan teliti dalam merencanakan memberikan sebuah diskon. Sebab, apabila Anda memberikan diskon berkepanjangan kepada calon pelanggan, tidak menutup kemungkinan bila dikemudian hari event tersebut tidak lagi dianggap spesial oleh para calon konsumen Anda.
Karenanya, agar event diskon yang Anda buat selalu dinanti para konsumen. Berikut ini saya referensikan beberapa strategi promosi, agar diskon Anda terlihat menarik di mata calon pembeli.
1. Beri batasan waktu untuk memancing rasa penasaran pelanggan



Bagi kalangan masyarakat yang doyan belanja, event diskon bisa dikatakan salah satu moment spesial yang sering mereka tunggu. Bahkan tak jarang calon konsumen rela menunggu berjam-jam dan ikut berbaris dalam antrian panjang agar tidak melewatkan event diskon yang ditawarkan sebuah brand ternama. Fenomena seperti ini mungkin sudah sering kita temui. Namun, sebenarnya apa yang menyebabkan event diskon tersebut sukses diserbu calon konsumen?..
Intinya adalah beri batasan waktu untuk memberikan diskon kepada calon konsumen. Semakin jarang Anda memberi diskon dan semakin singkat moment diskon yang Anda tawarkan, maka semakin besar rasa penasaran para pelanggan. Hal inilah yang menjadi daya tarik bagi para konsumen, sehingga tidak heran bila mereka rela antri berjam-jam untuk menunggu moment spesial diskon yang jarang Anda berikan sebelumnya.
2. Hindari istilah diskon = barang reject (rusak)
Kebanyakan pengusaha sengaja memberikan diskon kepada calon konsumen untuk menghabiskan barang-barang stok lama. Tentu alasan tersebut tidak menjadi pembenaran bagi Anda untuk menjual barang reject(rusak) dengan harga diskon yang relatif murah. Sebab, strategi promosi tersebut hanya akan merusak image produk yang Anda miliki dan memudarkan kepercayaan para pelanggan. Karenanya, pastikan Anda memilah dan memilih produk-produk yang akan Anda diskon dan memperbaiki terlebih dahulu barang yang reject sebelum akhirnya dijual kembali ke pasaran dengan harga diskon.
3. Manfaatkan moment spesial untuk memanjakan para pelanggan
Selain membatasi masa diskon, Anda juga harus jeli untuk memanfaatkan moment-moment spesial seperti misalnya Hari Raya Idul Fitri, Natal, tahun baru, dan hari-hari liburan untuk memanjakan para pelanggan dengan memberikan diskon besar-besaran. Biasanya, memasuki moment tersebut, minat konsumen untuk berbelanja semakin tinggi. Jadi, untuk menarik minat konsumen tidak ada salahnya bila Anda memberikan diskon menarik bagi para pelanggan untuk meningkatkan omzet penjualan dan loyalitas mereka terhadap produk-produk yang Anda tawarkan.
Nah, semoga ketiga tips pemasaran yang kami angkat pada pekan ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca dan menginspirasi para pelaku usaha untuk lebih bijak memberikan potongan harga.

Semoga bermanfaat



Jika Produk Bagus, Marketing Itu Urusan Kecil

3 hari yang lalu teman saya meminta untuk dibuatkan sebuah website untuk Toko Online. Dia sedang menjalani bisnis jual batik dengan berbagai variannya, seperti hem batik, blus batik, batik sarimbit, batik anak dan juga batik seragam.

Selama ini sebenarnya sudah banyak pelanggan dari luar kota. Sudah banyak order tapi masih belum punya website sendiri.



Selama ini teman saya itu menjalankan bisnis batiknya via Facebook ataupun tweeter dengan jaringan pertemanan yang dia punya dan juga dari jaringan istrinya. Dia menjalankan bisnis batik berdua.

Lewat sebuah riset dan ketersediaan nama domain, akhirnya kami membuat website Toko Online mereka dengan nama : www.BusanaBatik.net

Website dipesan dan mulai dibuat sekitar tiga hari yang lalu. Karena materi website belum lengkap, maka website baru ada ‘isinya’ kemarin siang.

Kami mengisinya dengan beberapa gambar produk batik hanya 3 buah saja. Kami pilih gambar yang menurut kami paling bagus untuk ditampilkan disana, lengkap dengan ukuran, harga dll.

Yang luar biasanya adalah, malam harinya ada message di Inbox FB yang isinya:

“Tadi temenku aku suruh buka www.BusanaBatik.net langsung pesan hem batik 2. Berarti untuk produk yang hem 2 sementara sudah laku”.

Produknya langsung laku di hari ke-3 setelah website dibuat.

Memang kasusnya tidak terlalu disengaja, tapi begitulah yang sering terjadi di awalnya.

Banyak pebisnis online terkejut di order pertamanya, dengan bermacam alasan. Pemesanan yang berlimpah, pembeli yang jauh disana, atau begitu cepatnya order yang masuk.

Sepanjang perjalanan bisnis online saya, paling cepat produk laku sekitar 15 hari sejak website dibuat. Tapi kejadian Busanabatik.net telah memecah rekor baru penjualan. 3 hari setelah pembuatan website produk SUDAH LAKU.

Salah satu sebabnya yang kami amati adalah PRODUKNYA memang bisa dikatakan BAGUS.

Jadi begitu produk anda bagus, maka marketing adalah pekerjaan yang KECIL.

Begitu orang-orang tahu produk anda, dan tahu produk anda BAGUS, maka pembelian sudah didepan mata. Buktikan sendiri…


Pemasaran Kaizen ala Jepang

Gaya pemasaran ala Jepang sudah mengalami proses perubahan, sejalan dengan konsep kaizen mereka yang selalu melakukan perbaikan. Dulu mereka fokus pada me-too product. Saat ini keunggulan mereka tidak hanya pada teknologi, tapi juga value terhadap konsumen. Tidak mengherankan, produk-produk mereka mempunyai resale value yang bisa dibilang tinggi.

Fokus perusahaan Jepang saat dekade tahun 1955 - 1965 adalah pengembangan produk yang dikendalikan perkembangan teknologi. Perhatian utamanya pada waktu itu terfokus pada ekspansi bagian R&D (riset dan pengembangan) untuk mengejar teknologi Barat yang saat itu memimpin 5-8 tahun lebih maju. Banyak sekali perusahaan Jepang pada waktu itu mengirimkan tim investigasi ke pasar Amerika dan Eropa untuk melakukan duplikasi produk me-too. Mereka melakukan ini untuk memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia, sekaligus mencuri pangsa pasar negara Barat. Jika posisi pemimpin pasar sudah diraih, maka perusahaan Jepang mampu memiliki keunggulan untuk bersaing di pasar beberapa tahun ke depan.

Selama periode itu, bidang pengembangan produk perusahaan Jepang hanya mengekor langkah-langkah yang dilakukan negara-negara Barat. Bahkan yang terjadi, perusahaan Jepang saat itu tidak melakukan studi maupun riset pengembangan produk khusus untuk pasar di Indonesia. Pada awal era ini, teori dan juga teknik marketing sebenarnya mulai diperkenalkan dan disosialisasikan pada perusahaan Jepang. Mereka mulai mempelajari dan juga mengadopsi teknik-teknik dan metode riset pemasaran, promosi penjualan, maupun perencanaan produk. Tapi, divisi pemasaran saat itu masih ditekankan pada aktivitas menjual (selling oriented). Intinya adalah pemasar harus bisa menjual produk yang telah dikembangkan oleh bagian riset di laboratorium dan produksi di pabrik.

Pada perkembangan setelah itu, perusahaan Jepang sudah mulai memperkenalkan dan menerapkan metode baru dalam melakukan riset pasar. Mereka mulai melakukan perencanaan maupun pengembangan produk, selain itu juga aktivitas promosi penjualan dengan benar. Banyak sekali perusahaan Jepang melakukan modernisasi dan juga perbaikan secara internal (continuous process improvement), namun yang terjadi saat itu aspek distribusi belum disentuh secara optimal.

Dekade tahun 1965-1975 adalah era “marketing gimmick”. Era ini terjadi pada masa pertumbuhan ekonomi yang telah tinggi, dimana terjadi demam pembelian (buying fever). Di Indonesia, produksi-produksi Jepang mulai menjejali pasar. Selain itu, terjadi perkembangan yang pesat di modern retail outlets, baik yang bersifat independent ataupun chain stores. Belanja konsumen dipengaruhi dengan kegiatan periklanan dan sales promotion, juga visual merchandising. Produk yang dipromosikan tadi bisa sangat populer dengan aktivitas TV commercial yang gencar.

Dalam persaingan, pada periode tersebut perusahaan Jepang berusaha dengan gigih untuk menjadi cost leader. Mereka fokus untuk menekan biaya tanpa mengurangi spesifikasi yang dibutuhkan oleh konsumen.

Lewat era tersebut, perusahaan Jepang semakin memperbaiki gaya pemasaran yang mereka gunakan. Perusahaan Jepang yang sekarang sudah menerapkan total marketing system. Produk perusahaan Jepang yang berhasil di pasar tidak lagi ditentukan oleh ide para insinyur ataupun dengan melakukan me-too products, atau juga strategi periklanan yang menarik. Tapi, lebih ditentukan oleh penampilan produk, keunggulan nilai produk (functional value & emotional value) yang dimilikinya, serta misi sosial (social mission) yang dijalankan perusahaan-perusahaan jepang.

Produk perusahaan Jepang yang diciptakan saat ini diperoleh dengan terus menggali pengetahuan konsumen lewat consumer insight. Mereka saat ini mempunyai keharusan untuk menciptakan produk yang memang bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, produk tersebut harus diciptakan dari teknologi kreatif dan kompetensi perusahaan. Tidak hanya itu, produk yang diciptakan juga harus mempunyai struktur biaya yang kompetitif, melalui tes konsumen pada setiap fase pengembangan produk, tentunya juga memiliki keunikan yang harus dikomunikasikan pada setiap tahap saluran distribusi.

Contohnya adalah Mobil Toyota Kijang. Inovasi berkelanjutan adalah pendorong utama Toyota Kijang menjadi market leader di pasar otomotif Indonesia. Inovasi ini ditunjang dengan desain dan teknologi. Selain itu, dalam aktivitas promosinya, Kijang selalu konsisten memosisikan diri sebagai family car. Keunggulan lain yang dimilikinya adalah faktor distribusi dan service yang prima. Tidak kalah pentingnya yaitu Toyota Kijang mempunyai nilai jual kembali (resale value) yang tinggi. Seperti yang kita ketahui, banyak juga perusahaan otomotif Jepang lainnya yang sukses, seperti Honda, Yamaha, Suzuki, Daihatsu yang mempunyai kemiripan dengan Toyota. Maklum, mereka menjalankan gaya pemasaran yang bisa dibilang mirip.

K-Pop VS J-Pop


Bulan september lalu di Tokyo, Jepang terjadi demonstrasi oleh 6.000 orang. Mereka tidak memprotes soal kebocoran pembangkit listrik tenaga nuklir. Namun, kerasnya suara dan banyaknya orang yang berdemo tak kalah dengan demonstrasi antinuklir.

Mereka berdemo di depan kantor pusat Fuji TV dengan membawa spanduk yang isinya kemarahan mereka atas stasiun televisi ini yang terlalu banyak menampilkan program berbau Korea. Termasuk juga program lagu K-Pop. “No More Korean Waves!!!!”.

Masyarakat di Jepang tampaknya cukup gerah dengan kehadiran drama Korea dan musik dari Negeri Ginseng tersebut, bahkan bisa menembus rekor penjualan musik di Jepang. Acara drama dan K-Pop menempati posisi prime time di stasiun televisi Jepang.

Demonstrasi yang dilakukan merupakan salah satu cerminan perseteruan Jepang dan Korea dalam menaklukkan pasar lewat budaya dan merek. Di berbagai negara di dunia ini, merek Jepang mulai terdepak oleh merek-merek Korea.

Merek Korea punya karakter tersendiri. Merek Korea hadir dengan kualitas yang tidak bagus-bagus amat, tapi juga tidak jelek, ya bisa dibilang lumayan lah, tapi tetap dijual dengan harga murah. Sementara merek Jepang masih mempertahankan keegoannya dengan kualitas nomor satu dan harga yang yang bisa dibilang mahal. Alhasil, merek-merek Korea pun kelamaan lebih pas dengan kondisi ekonomi di berbagai negara Asia.

Namun, kedua negara tersebut sadar bahwa budaya bisa menjadi salah satu modal transportasi yang baik untuk mengantarkan merek-merek global mereka masuk ke suatu negara. Tiga budaya yang paling bisa masuk dan cepat memengaruhi konsumennya adalah makanan, musik, dan film. Karena itu Korea mati-matian memasukkan budayanya ke berbagai negara. Korean Waves bahkan menjadi program pemerintah, di mana budaya Korea harus bisa mengungguli Jepang dan Cina..

Salah satu senjata ampuh Korea adalah Korean Pop alias K-Pop. Penjajahan lewat K-Pop ini tidak hanya terjadi di Jepang, tetapi juga termasuk Indonesia. Demam K-Pop telah melahirkan grup boy band dan girl band seperti Sm*sh (Smash) dan Cherry Belle, dan lebih banyak lagi yang lainnya. Stasiun televisi di Indonesia pun seperti biasanya mulai mencari celah dengan menggelar ajang kompetisi K-Pop.

Karakter kedua negara dalam bersaing secara merek bisa dilihat dari bagaimana J-Pop dan K-Pop saling hajar. Kita semua tahu bahwa orang Jepang dan orang Korea agak kesulitan menggunakan bahasa Inggris sehingga sudah pasti lagu-lagu dari kedua negara itu berbahasa Jepang atau Korea. Tapi Sebaliknya, pendengar musik mereka dari mancanegara juga tidak memahami arti kata-kata yang keluar dari nyanyian-nyanyian mereka. Pendengar hanya bisa menikmati iramanya.

Namun, Korea sekali lagi lebih pintar mengemas K-Pop mereka. J-Pop lebih mengutamakan kualitas vokal dan musik serta mempertahankan identitas Jepang mereka pada lagu-lagunya. Sedangkan K-Pop tampil beda. K-Pop dinyanyikan oleh banyak orang. Bahkan ada yang satu grup bisa mencapai 15 orang. Meskipun banyak, semuanya bernyanyi dengan gerakan dinamis dan atraktif. Kata-kata dalam lagu mereka pun terkadang dicampur dengan ucapan bahasa Inggris, meski hanya sekadar “I love you”. Namun, dengan satu kata ini paling tidak ada sinyal yang nyangkut antara penyanyi K-Pop dengan penonton mancanegara. Jadi, meskipun tidak mengerti bahasanya, penonton bisa menikmati irama dan gerakan para penarinya.

Korea juga mencoba melawan Jepang lewat titik lemahnya, seperti pada pemujaan berlebihan terhadap budaya dan orientasi kualitas. Di sisi lain Korea lebih mau membaurkan budaya Barat di dalamnya. Kualitas, seperti biasanya, diletakkan di tengah-tengah.

Fenomena Jepang dan Korea adalah fenomena yang menarik, sebuah negara yang sadar jika kebanggaan rakyatnya terhadap negara akan semakin meningkat pada saat budaya dan merek negaranya bisa “menjajah” negara lain. Keduanya mempunyai strategi yang berbeda dan mendapatkan pasarnya masing-masing. Sekarang, akankah K-Pop mampu menjadi motor pengerek merek-merek buatan Korea agar lebih disukai dibandingkan merek Jepang???? Kita lihat saja!!!

DON'T SELL YOUR PRODUCTS


Jangan jual produk Anda, tetapi jadikan produk Anda menjual dirinya sendiri.Produk yang menjual, adalah produk yang menawarkan experiences, emosi, gaya hidup bahkan religius.Relationship tidak dimulai pada waktu pelanggan beli, tetapi dimulai pada saat pelanggan mengenal (buat pelanggan memiliki pengalaman yang positif terhadap produk Anda). Contoh iklan menjual makanan untuk burung "Friskies" ini sangat kreatif:

STRATEGI MENINGKATKAN PERSONAL BRANDING

Strategi meningkatkan personal branding membutuhkan banyak kreativitas dan inovasi, yaitu dengan cara menciptakan unsur – unsur dari suatu brand, memberikan nama yang unik, membuat strategi posisioning, mengkomunikasikan pesan yang penting dan mengelola secara terus menerus brand tersebut.

Menurut Al-Ries (1982) dan Boush (1991) setiap orang memiliki philosophy branding yang berbeda – beda sehingga memiliki keunikan sendiri – sendiri dan memiliki karakteristik pribadi yang berbeda – beda.

Proses terbentuknya personal branding dimulai dari:
-Menentukan siapa diri kita sebenarnya (termasuk didalamnya adalah kekhususan yang kita miliki)
-Menentukan apa yang kita kerjakan (termasuk produk/jasa yang kita hasilkan)
-Memposisikan diri kita (yaitu dengan menentukan siapa target market kita, dan apa yang menyebabkan kita/produk/jasa yang kita berikan berbeda dengan apa yang dimiliki pesaing)
-Kelola brand yang sudah kita miliki secara terus menerus, jangan sampai mengalami kemerosotan

1. Cara Menentukan Siapa Diri Kita Sebenarnya

Mengingat personal branding merupakan refleksi dari orang/produk/jasa yang melekat pada obyek tersebut, maka cara mengidentifikasi personal brand harus ditanyakan pada diri kita sendiri: Apa yang harus saya lakukan agar saya memiliki perbedaan dengan yang lain. Kegiatan ini dapat kita lakukan dengan melakukan analisis SWOT (Freddy Rangkuti, 2009) yaitu menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman.

Personal branding lebih banyak merupakan cara menentukan siapa diri kita yang sebenarnya, dengan demikian personal branding muncul dari pencarian identitas, sebagian lainnya muncul dari awareness kekuatan personal branding yang kita miliki. Selain itu juga memerlukan pencarian unsur – unsur dari suatu brand atau asosiasi yang kita miliki menurut benak target market. Tidak heran untuk memperkuat asosiasi ini personal branding membutuhkan pakaian yang berbeda, topi yang berbeda, makanan yang berbeda, tempat tinggal yang berbeda, cara bicara yang berbeda, sampai gaya hidup yang berbeda. Namun demikian hal yang paling penting membuat kita berbeda, adalah niat yang ingin kita pancarkan dalam diri kita harus dapat memberikan manfaat buat alam sekitar kita.

2. Menentukan Apa yang Kita Kerjakan

Caranya adalah dengan mengidentifikasi kekuatan utama dan keunikan yang kita miliki. Hal ini harus dapat merefleksikan jenis pekerjaan yang ingin dilakukan dalam hidup ini. Yaitu dengan cara bertanya pada diri sendiri ”Apakah yang saya kerjakan dapat lebih baik, diukur dan dibedakan dengan apa yang dikerjakan oleh orang lain? Apakah pekerjaan yang saya lakukan tersebut dapat memberikan manfaat untuk orang lain, sehingga saya bangga dapat melakukan pekerjaan tersebut?

Personal branding tidak harus melakukan pekerjaan yang menarik perhatian. Personal branding lebih mementingkan pemahaman terhadap nilai yang kita miliki, apakah nilai tersebut relevan dan bermanfaat dengan orang lain. Artinya sebagian besar pengembangan personal branding dilakukan sesuai dengan nilai – nilai yang dimiliki oleh individu yang bersangkutan.

3. Cara Memposisikan Diri

Caranya adalah dengan mengidentifikasi karakteristik dan kualitas yang dapat membedakan kita dengan pesaing. Apabila kita telah dapat membuat posisioning yang berbeda dengan apa yang dilakukan pesaing, maka kita dapat secara terus menerus menjaga agar tidak dapat ditiru oleh para pesaing, misalnya dengan melakukan inovasi dan kreasi secara berkesinambungan.

Agar posisioning kita bertambah kuat, usahakan target kita sama dengan target bisnis kita, yaitu dengan memadukan antara nilai – nilai yang kita miliki yang menjadikan kita bernilai bagi orang lain. Usahakan nilai – nilai tersebut sejalan dengan tujuan bisnis yang sedang kita kerjakan. Semua ini merupakan proses dua arah. Bukan hanya personal brand yang kuat sehingga dapat memberikan keuntungan buat kita, tetapi keselarasan hubungan dengan tujuan bisnis yang saling mendukung, sehingga menciptakan pengaruh emosional yang memberikan manfaat optimal kepada masyarakat.

Strategi promosi personal branding yang kita lakukan sebaiknya jangan meniru bentuk komunikasi yang dilakukan pesaing. Kita harus menciptakan bentuk komunikasi yang kita lakukan sendiri, semuanya harus dikaitkan dengan personal brand yang telah kita miliki.Tujuan personal brand adalah harus jelas, sulit ditiru oleh pesaing, mudah dipahami, memiliki keunikan, dan selalu memberikan manfaat. Menurut Al – Ries (1982) strategi posisioning yang sama dengan yang dilakukan pesaing disebut bukan strategi. Pendapat ini sesuai dengan berbagai pendapat pakar brand lainnya seperti Aaker (1990); Andrew (1997); Czepiel (1992) dan Igor (1984).

4. Mengelola Brand

Kunci mengelola brand adalah ”word of – mouth marketing” (WOM), membina networking atau jaringan teman, kolega, klien dan customer merupakan alat yang paling penting dalam mengelola personal brand. Apa yang diinginkan customer harus merupakan tujuan tertinggi yang selalu dipertahankan, sehingga brand kita memiliki nilai yang bermanfaat. Cara membuat dan mengukur WOM ini secara detail dapat dilihat di buku “Strategi Promosi yang Kreatif “(Freddy Rangkuti, 2009).

Personal brand harus selalu memberikan kepercayaan dalam benak konsumen. Semakin banyak customer yang mempercayai, maka akan semakin cepat kekuatan WOM menyebar tanpa harus mengeluarkan biaya promosi yang sangat besar (McNally, 2004).

Selanjutnya, kita harus selalu berusaha agar gap antara persepsi mengenai brand yang kita miliki sekarang tidak memiliki perbedaan dengan persepsi yang diharapkan oleh customer. Dengan demikian diperlukan evaluasi mengenai kinerja brand, sehingga dapat selalu dijaga dan ditingkatkan.