Bisnis

BISNIS

Internet, Marketing, Retail

Download

Download

Download DVD, Game, Software

Tips n Trick

Tips n Trick

Tips dan Trik seputar dunia internet, marketing, desain grafis dan lainnya

Desain Grafis

Desain Grafis

Tips dan Trik umum

Forum

Forum

Please Join with my forum

Advertise

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Translate Widget by Google

Strategi Promosi, Agar Diskon Anda Terlihat Menarik

diskon 200x123 Strategi Promosi, Agar Diskon Anda Terlihat MenarikBisa dibilang, hampir semua konsumen haus dengan yang namanya diskon. Berbagai macam event promosi yang menawarkan diskon besar-besaran di sebuah mall / pusat perbelanjaan, selalu ramai dipenuhi oleh calon konsumen yang ingin mendapatkan beragam jenis produk berkualitas dengan harga yang cukup terjangkau. Hal inilah yang mendorong para pelaku usaha untuk berlomba-lomba memberikan diskon kepada para konsumen untuk meningkatkan omzet penjualan setiap hari maupun setiap bulannya.
Meskipun strategi promosi dengan menawarkan diskon cukup menarik dimata para konsumen, namun sebagai seorang pengusaha Anda harus jeli dan teliti dalam merencanakan memberikan sebuah diskon. Sebab, apabila Anda memberikan diskon berkepanjangan kepada calon pelanggan, tidak menutup kemungkinan bila dikemudian hari event tersebut tidak lagi dianggap spesial oleh para calon konsumen Anda.
Karenanya, agar event diskon yang Anda buat selalu dinanti para konsumen. Berikut ini saya referensikan beberapa strategi promosi, agar diskon Anda terlihat menarik di mata calon pembeli.
1. Beri batasan waktu untuk memancing rasa penasaran pelanggan



Bagi kalangan masyarakat yang doyan belanja, event diskon bisa dikatakan salah satu moment spesial yang sering mereka tunggu. Bahkan tak jarang calon konsumen rela menunggu berjam-jam dan ikut berbaris dalam antrian panjang agar tidak melewatkan event diskon yang ditawarkan sebuah brand ternama. Fenomena seperti ini mungkin sudah sering kita temui. Namun, sebenarnya apa yang menyebabkan event diskon tersebut sukses diserbu calon konsumen?..
Intinya adalah beri batasan waktu untuk memberikan diskon kepada calon konsumen. Semakin jarang Anda memberi diskon dan semakin singkat moment diskon yang Anda tawarkan, maka semakin besar rasa penasaran para pelanggan. Hal inilah yang menjadi daya tarik bagi para konsumen, sehingga tidak heran bila mereka rela antri berjam-jam untuk menunggu moment spesial diskon yang jarang Anda berikan sebelumnya.
2. Hindari istilah diskon = barang reject (rusak)
Kebanyakan pengusaha sengaja memberikan diskon kepada calon konsumen untuk menghabiskan barang-barang stok lama. Tentu alasan tersebut tidak menjadi pembenaran bagi Anda untuk menjual barang reject(rusak) dengan harga diskon yang relatif murah. Sebab, strategi promosi tersebut hanya akan merusak image produk yang Anda miliki dan memudarkan kepercayaan para pelanggan. Karenanya, pastikan Anda memilah dan memilih produk-produk yang akan Anda diskon dan memperbaiki terlebih dahulu barang yang reject sebelum akhirnya dijual kembali ke pasaran dengan harga diskon.
3. Manfaatkan moment spesial untuk memanjakan para pelanggan
Selain membatasi masa diskon, Anda juga harus jeli untuk memanfaatkan moment-moment spesial seperti misalnya Hari Raya Idul Fitri, Natal, tahun baru, dan hari-hari liburan untuk memanjakan para pelanggan dengan memberikan diskon besar-besaran. Biasanya, memasuki moment tersebut, minat konsumen untuk berbelanja semakin tinggi. Jadi, untuk menarik minat konsumen tidak ada salahnya bila Anda memberikan diskon menarik bagi para pelanggan untuk meningkatkan omzet penjualan dan loyalitas mereka terhadap produk-produk yang Anda tawarkan.
Nah, semoga ketiga tips pemasaran yang kami angkat pada pekan ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca dan menginspirasi para pelaku usaha untuk lebih bijak memberikan potongan harga.

Semoga bermanfaat



Pemasaran Kaizen ala Jepang

Gaya pemasaran ala Jepang sudah mengalami proses perubahan, sejalan dengan konsep kaizen mereka yang selalu melakukan perbaikan. Dulu mereka fokus pada me-too product. Saat ini keunggulan mereka tidak hanya pada teknologi, tapi juga value terhadap konsumen. Tidak mengherankan, produk-produk mereka mempunyai resale value yang bisa dibilang tinggi.

Fokus perusahaan Jepang saat dekade tahun 1955 - 1965 adalah pengembangan produk yang dikendalikan perkembangan teknologi. Perhatian utamanya pada waktu itu terfokus pada ekspansi bagian R&D (riset dan pengembangan) untuk mengejar teknologi Barat yang saat itu memimpin 5-8 tahun lebih maju. Banyak sekali perusahaan Jepang pada waktu itu mengirimkan tim investigasi ke pasar Amerika dan Eropa untuk melakukan duplikasi produk me-too. Mereka melakukan ini untuk memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia, sekaligus mencuri pangsa pasar negara Barat. Jika posisi pemimpin pasar sudah diraih, maka perusahaan Jepang mampu memiliki keunggulan untuk bersaing di pasar beberapa tahun ke depan.

Selama periode itu, bidang pengembangan produk perusahaan Jepang hanya mengekor langkah-langkah yang dilakukan negara-negara Barat. Bahkan yang terjadi, perusahaan Jepang saat itu tidak melakukan studi maupun riset pengembangan produk khusus untuk pasar di Indonesia. Pada awal era ini, teori dan juga teknik marketing sebenarnya mulai diperkenalkan dan disosialisasikan pada perusahaan Jepang. Mereka mulai mempelajari dan juga mengadopsi teknik-teknik dan metode riset pemasaran, promosi penjualan, maupun perencanaan produk. Tapi, divisi pemasaran saat itu masih ditekankan pada aktivitas menjual (selling oriented). Intinya adalah pemasar harus bisa menjual produk yang telah dikembangkan oleh bagian riset di laboratorium dan produksi di pabrik.

Pada perkembangan setelah itu, perusahaan Jepang sudah mulai memperkenalkan dan menerapkan metode baru dalam melakukan riset pasar. Mereka mulai melakukan perencanaan maupun pengembangan produk, selain itu juga aktivitas promosi penjualan dengan benar. Banyak sekali perusahaan Jepang melakukan modernisasi dan juga perbaikan secara internal (continuous process improvement), namun yang terjadi saat itu aspek distribusi belum disentuh secara optimal.

Dekade tahun 1965-1975 adalah era “marketing gimmick”. Era ini terjadi pada masa pertumbuhan ekonomi yang telah tinggi, dimana terjadi demam pembelian (buying fever). Di Indonesia, produksi-produksi Jepang mulai menjejali pasar. Selain itu, terjadi perkembangan yang pesat di modern retail outlets, baik yang bersifat independent ataupun chain stores. Belanja konsumen dipengaruhi dengan kegiatan periklanan dan sales promotion, juga visual merchandising. Produk yang dipromosikan tadi bisa sangat populer dengan aktivitas TV commercial yang gencar.

Dalam persaingan, pada periode tersebut perusahaan Jepang berusaha dengan gigih untuk menjadi cost leader. Mereka fokus untuk menekan biaya tanpa mengurangi spesifikasi yang dibutuhkan oleh konsumen.

Lewat era tersebut, perusahaan Jepang semakin memperbaiki gaya pemasaran yang mereka gunakan. Perusahaan Jepang yang sekarang sudah menerapkan total marketing system. Produk perusahaan Jepang yang berhasil di pasar tidak lagi ditentukan oleh ide para insinyur ataupun dengan melakukan me-too products, atau juga strategi periklanan yang menarik. Tapi, lebih ditentukan oleh penampilan produk, keunggulan nilai produk (functional value & emotional value) yang dimilikinya, serta misi sosial (social mission) yang dijalankan perusahaan-perusahaan jepang.

Produk perusahaan Jepang yang diciptakan saat ini diperoleh dengan terus menggali pengetahuan konsumen lewat consumer insight. Mereka saat ini mempunyai keharusan untuk menciptakan produk yang memang bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, produk tersebut harus diciptakan dari teknologi kreatif dan kompetensi perusahaan. Tidak hanya itu, produk yang diciptakan juga harus mempunyai struktur biaya yang kompetitif, melalui tes konsumen pada setiap fase pengembangan produk, tentunya juga memiliki keunikan yang harus dikomunikasikan pada setiap tahap saluran distribusi.

Contohnya adalah Mobil Toyota Kijang. Inovasi berkelanjutan adalah pendorong utama Toyota Kijang menjadi market leader di pasar otomotif Indonesia. Inovasi ini ditunjang dengan desain dan teknologi. Selain itu, dalam aktivitas promosinya, Kijang selalu konsisten memosisikan diri sebagai family car. Keunggulan lain yang dimilikinya adalah faktor distribusi dan service yang prima. Tidak kalah pentingnya yaitu Toyota Kijang mempunyai nilai jual kembali (resale value) yang tinggi. Seperti yang kita ketahui, banyak juga perusahaan otomotif Jepang lainnya yang sukses, seperti Honda, Yamaha, Suzuki, Daihatsu yang mempunyai kemiripan dengan Toyota. Maklum, mereka menjalankan gaya pemasaran yang bisa dibilang mirip.

K-Pop VS J-Pop


Bulan september lalu di Tokyo, Jepang terjadi demonstrasi oleh 6.000 orang. Mereka tidak memprotes soal kebocoran pembangkit listrik tenaga nuklir. Namun, kerasnya suara dan banyaknya orang yang berdemo tak kalah dengan demonstrasi antinuklir.

Mereka berdemo di depan kantor pusat Fuji TV dengan membawa spanduk yang isinya kemarahan mereka atas stasiun televisi ini yang terlalu banyak menampilkan program berbau Korea. Termasuk juga program lagu K-Pop. “No More Korean Waves!!!!”.

Masyarakat di Jepang tampaknya cukup gerah dengan kehadiran drama Korea dan musik dari Negeri Ginseng tersebut, bahkan bisa menembus rekor penjualan musik di Jepang. Acara drama dan K-Pop menempati posisi prime time di stasiun televisi Jepang.

Demonstrasi yang dilakukan merupakan salah satu cerminan perseteruan Jepang dan Korea dalam menaklukkan pasar lewat budaya dan merek. Di berbagai negara di dunia ini, merek Jepang mulai terdepak oleh merek-merek Korea.

Merek Korea punya karakter tersendiri. Merek Korea hadir dengan kualitas yang tidak bagus-bagus amat, tapi juga tidak jelek, ya bisa dibilang lumayan lah, tapi tetap dijual dengan harga murah. Sementara merek Jepang masih mempertahankan keegoannya dengan kualitas nomor satu dan harga yang yang bisa dibilang mahal. Alhasil, merek-merek Korea pun kelamaan lebih pas dengan kondisi ekonomi di berbagai negara Asia.

Namun, kedua negara tersebut sadar bahwa budaya bisa menjadi salah satu modal transportasi yang baik untuk mengantarkan merek-merek global mereka masuk ke suatu negara. Tiga budaya yang paling bisa masuk dan cepat memengaruhi konsumennya adalah makanan, musik, dan film. Karena itu Korea mati-matian memasukkan budayanya ke berbagai negara. Korean Waves bahkan menjadi program pemerintah, di mana budaya Korea harus bisa mengungguli Jepang dan Cina..

Salah satu senjata ampuh Korea adalah Korean Pop alias K-Pop. Penjajahan lewat K-Pop ini tidak hanya terjadi di Jepang, tetapi juga termasuk Indonesia. Demam K-Pop telah melahirkan grup boy band dan girl band seperti Sm*sh (Smash) dan Cherry Belle, dan lebih banyak lagi yang lainnya. Stasiun televisi di Indonesia pun seperti biasanya mulai mencari celah dengan menggelar ajang kompetisi K-Pop.

Karakter kedua negara dalam bersaing secara merek bisa dilihat dari bagaimana J-Pop dan K-Pop saling hajar. Kita semua tahu bahwa orang Jepang dan orang Korea agak kesulitan menggunakan bahasa Inggris sehingga sudah pasti lagu-lagu dari kedua negara itu berbahasa Jepang atau Korea. Tapi Sebaliknya, pendengar musik mereka dari mancanegara juga tidak memahami arti kata-kata yang keluar dari nyanyian-nyanyian mereka. Pendengar hanya bisa menikmati iramanya.

Namun, Korea sekali lagi lebih pintar mengemas K-Pop mereka. J-Pop lebih mengutamakan kualitas vokal dan musik serta mempertahankan identitas Jepang mereka pada lagu-lagunya. Sedangkan K-Pop tampil beda. K-Pop dinyanyikan oleh banyak orang. Bahkan ada yang satu grup bisa mencapai 15 orang. Meskipun banyak, semuanya bernyanyi dengan gerakan dinamis dan atraktif. Kata-kata dalam lagu mereka pun terkadang dicampur dengan ucapan bahasa Inggris, meski hanya sekadar “I love you”. Namun, dengan satu kata ini paling tidak ada sinyal yang nyangkut antara penyanyi K-Pop dengan penonton mancanegara. Jadi, meskipun tidak mengerti bahasanya, penonton bisa menikmati irama dan gerakan para penarinya.

Korea juga mencoba melawan Jepang lewat titik lemahnya, seperti pada pemujaan berlebihan terhadap budaya dan orientasi kualitas. Di sisi lain Korea lebih mau membaurkan budaya Barat di dalamnya. Kualitas, seperti biasanya, diletakkan di tengah-tengah.

Fenomena Jepang dan Korea adalah fenomena yang menarik, sebuah negara yang sadar jika kebanggaan rakyatnya terhadap negara akan semakin meningkat pada saat budaya dan merek negaranya bisa “menjajah” negara lain. Keduanya mempunyai strategi yang berbeda dan mendapatkan pasarnya masing-masing. Sekarang, akankah K-Pop mampu menjadi motor pengerek merek-merek buatan Korea agar lebih disukai dibandingkan merek Jepang???? Kita lihat saja!!!

Susu Kedelai Oraganik

Oriflame: Kecantikan dari Alam

WaniPiro Tour

Unforgetable Ads!

Sungguh benar bila dikatakan bahwa tidak ada kesempatan kedua untuk membuat kesan pertama yang baik. Iklan, terlepas online atau offline, jika mereka tidak menarik perhatian Anda dalam hitungan detik mereka dianggap gagal. Agen dan perusahaan-perusahaan besar tidak percaya pada ’faktor keren’ dalam iklan lagi. Sebaliknya, untuk benar-benar keluar dari keramaian, ide itu harus benar-benar “out of the box”, sesuatu yang membuat Anda tertawa, berbicara tentang hal itu atau setidaknya membuat Anda melihat dua kali atau lebih. Berikut ada beberapa iklan kreatif yang dapat membuat Anda berpikir dua kali untuk membuat iklan:

FedEx Kinkos – Office Products now at fedexkinkos.com




Shoes Company


Games for Puzzle


Kill Bill 2


McDonalds -Bus Stops


Nike


Parking Lot


MiniCooper


Save The Human




Mercedez Benz Bilboard


Football Soccer


Nestle


IKEA


LEGO


Sharp in the Building


NESCAFE


The Naval Museum of Alberta


Nothing can replace a tree.


FedEx


Australia Post - If you really want to touch someone, send them a letter.


Starwars III – Return of the Sith



The Fitness Company


Camera


WWF – Save The World With A Few of Coins

Merumus Komunikasi Kreatif dengan Neuro Marketing


Meskipun di Tanah Air Nauro Marketing masih sebatas wacana dan di luar negeri masih terhitung anyar, namun beberapa tahun ke depan Neuro Marketing diprediksi bakal happening. Tim BBDO pun sudah memulainya dari sekarang. Seperti apa Neuro Marketing?

Setiap hari, tak kurang dari 4000-an brand telah memborbardir isi kepala seseorang. Ribuan brand yang dikemas dalam iklan tersebut, masuk melalui beragam contact point. Mulai dari layar teve, radio, media cetak, bilboard, instore, komuputer kerja, hingga layar telepon seluler. Pesan Iklan yang dikirimkan tadi, mirisnya, masih harus bercampur dengan beragam isu atau informasi lainnya.

Lantas, seberapa banyak seorang mampu mengingat, bahkan mencerna pesan iklan yang masuk? "Tidak mudah membuat orang me-recall iklan sebuah brand di tengah gempuran iklan yang ada. Itu sebabnya, iklan harus dikemas kreatif," jawab Edhy "Ebe" Bawono, Strategic Planning & Business Development Director BBDO Indonesia.

Dilanjutkan Ebe, demi menciptakan Iklan yang kreatif sehingga berujung pada recall yang tinggi, cara berpikir dalam merumuskan sebuah konsep kreatif harus didasarkan pada dua hal. Yaitu, human psychology dan neuro science. Keduanya merupakan dasar dari konsep yang dinamakan "Neuro Marketing".

Melalui human psychology, para praktisi periklanan dan komunikasi dapat mengubah persepsi serta perilaku konsumen terhadap brand yang dikomunikasikan. Sementara itu, lewat neuro science, mereka dapat memahami sekaligus mengukur kerja otak dalam mencerna Iklan yang telah dibuat melalui berbagai stimulus. Stimulusnya adalah seluruh panca indra manusia. Dan, masing-masing pesan Iklan tentu saja berbeda-beda stimulusnya.

Artiny, ditambahkan Executive Creative Director BBDO Indonesia Didit Intra, jika kombinasi human psychology dan neuro science sudah menjadi dasar berpikir dalam membuat sebuah Iklan, maka kreatif yang dibuat pun akan berdampak pada recall yang tinggi, bahkan sanggup "menghipnotis" audience untuk mengkonsumsi.

Di luar negeri sendiri, Neuro Marketing masih terhitung konsep baru. Neuro Marketing adalah studi yang menggunakaan secara langsung gambaran otak atau kerja otak seseorang dalam merespon secara khusus produk, kemasan, iklan, brand activation, public relation, atau elemen marketing lainnya.

Dengan Neuro Marketing, kita bisa mendapatkan insight yang jujur dari konsumen. Sebab, kadangkala ketika konsumen ditanya pendapat mereka tentang brand, apa yang ada di kepala belum tentu sama dengan yang diucap. Nah, dengan Neuro Marketing, kita bisa memperoleh informasi jujur tentang persepsi konsumen terhadap brand kita," papar Ebe.

Jangan heran, kalau perusahaan riset raksasa sekelas Nielsen Company saja akhirnya sudah memutuskan untuk menginvestasikan teknik NeuroFocus ke dalam layanannya.

Sebagai contoh, teknik NeuroFocus akan menjadi fitur permanen di dalam labs Nielsen Digital, sebuah pusat penelitian MGM Grand (Las Vegas) dan Citywalk (Los Angeles).

Melalui teknik yang mengacu pada kerja otak, Nielsen dapat mengukur reaksi konsumen atas sebuah iklan atau produk.

Ada banyak benefit yang bisa didapat oleh pemasar maupun praktisi komunikasi dengan memijakkan cara berpikir lewat Neuro Marketing. Pertama, aneka informasi yang diperoleh dari benak konsumen seputar brand bukanlah prediksi, melainkan jawaban yang terukur. Hal itu jelas tidak mungkin didapat dari teknik marketing lainnya. Dengan demikian, strategi marketing komunkiasi yang dirumuskan sekaligus dieksekusi sudah pasti akan berdampak signifikan.

Kedua, dengan Neuro Marketing, setiap strategi marketing komunkiasi dapat terukur. Ketiga, bujet marketing komunikasi pun jauh lebih ringkas, alias efisien. Kenapa? "Lantaran, melalui informasi yang didapat dari respon kerja otak seseorang, kita dapat mengetahui misalnya, medium mana yang perlu dipakai, medium mana yang tidak perlu dipakai. Artinya, kita tidak harus gebyah uyah memanfaatkan seluruh medium komunikasi, padahal target market mungkin tidak pernah bersentuhan dengan seluruh medium tersebut," tegas Didit.

Boleh jadi, dengan memahami psikologis dan kerja otak dari target marketing yang dibidik, medium komunikasi yang dimanfaatkan cukup satu saja. Contohnya, Keripik Maicih. Diuraikan Didit, secara tidak langsung pemilik merek Maicih mampu memahami psikologis dan kerja otak dari target market yang dibidiknya.

Pemilik merek hanya memanfaatkan medium Twitter dan istilah verbal yang unik, seperti Jendral untuk reseller-nya, Icihers untuk penggemar keripik Maicih, Emak untuk ibu-ibu pembuat keripiknya, Cucu untuk konsumennya, dan Tericih-icih untuk menggambarkan ketagihan akan pedasnya Maicih.

"Stimulusnya adalah rasa pedas yang disensaikan dalam berbagai tingkatan. Selanjutnya, penjualan dilakukan hanya dengan men-tweet rute yang akan dilalu para Jendral-nya. Bujet minim, dampak sangat signifikan. Sekarang, netizen mana yang tidak kenal dan kegandrungan dengan keripik Maicih," terang Ebe.

Pendek kata, di industri advertising, Neuro Marketing jelas sangat berguna dalam merumuskan kreatif iklan sekaligus media placement yang efektif, yang notabene langsung menyasar secara personal kepada target market. Dengan memahami cara bekerja otak dalam memproses informasi inilah yang akan membuat komunikasi semakin efektif.

Diuraikan Eve, sejatinya bukan hanya industri advertising, komunikasi, riset, maupun pemilik brand (produsen) saja yang dapat memanfaatkan Neuro Marketing. Sifatnya yang universal-yang merupakan studi tentang respon atas kerja otak manusia-Neuro Marketing juga bisa dimanfaatkan oleh seluruh Industri, termasuk industri media. Lewat Neuro Marketing umpamanya, praktisi media dapat membuat program yang efektif sesuai dengan selera audience.

Itu sebabnya, BBDO Indonesia tak mau ketinggalan, meskipun saat ini Neuro Marketing masih sebatas wacana di Tanah Air, Ebe yakin betul, beberapa tahun ke depan Neuro Marketing akan menjadi cara berpikir yang dipakai oleh praktisi komunikasi dan pemasaran.

"Mulai dari sekarang, kami merasa perlu mengubah cara berpikir tim pada konsep Neuro Marketing. Termasuk, menularkannya pada klien maupun partner kami lainnya. Dan, kami sudah memulainya saat akan merumuskan kreatif iklan atau kampanye sebuah brand. Yang terpenting, Neuro Marketing sangat berdampak bagi barand dalam berkomunikasi dengan target marketnya" tutup Eve. - ADV